MENJADI ORGANISATORIS

Sebelum aku masuk dalam organisasi, dulu aku sering berharap menjadi seseorang yang dapat dikenang sepeninggal saya, itu saja, tidak lebih. Namun ketika, aku telah masuk didalamnya, pikiran ku mulai berbalik arah, dan kembali harus meralat ulang obsesi ku dalam riwayat hidup yang pasti akan berakhir entah lama atau tidak.

Ternyata menjadi seorang organisatoris memang mengasikkan, walaupun banyak yang harus dikorbankan. Jangan tanya sudah berkorban apa saja, selama aku menjadi organisatoris, sebab catatan itu memang tidak harus di publikasikan di ruang publik. Cukup menjadi konsumsi batinku, yang mulai sadar bahwa dengan berorganisasi aku menemukan kenikmatan, bisa saling berakrab diri dengan yang lain, walaupun berbeda suku, agama, golongan. Selain itu, aku juga bisa sedikit memahami keberadaan ku dialam ini. sebab selama ini, saya hanya memahami diriku, dalam artian yang dogmatis semata.

Apa yang ditawarkan dalam organisasi, apalagi selevel LPM. PRIMA (organisasi gurem, yang hidup tidak, mati pun tidak), hingga saya berani mengamini bahwa berorganisasi itu nikmat, dan mengasyikkan. Tiada lain, secara pandangan subjektifku, bahwa dengan berorganisasi sisi egoisitas, individualitas akan di kikis dan dijadikan bentuk sikap kolektivitas yang merakyat dan kekeluargaan, saling memahami satu dengan yang lain, saling memberi semangat ketika zaman semakin mengekang keberadaan sisi kemanusiaan kita, yang terkadang membuat jiwa kita pragmatis, apatis, opportunis akan realitas kondisi di sekeliling kita.

Dengan berorganisasi pula, sikap empati dan rasa tanggung jawab kita akan diuji, seberapa besar sih, rasa tanggung jawab kita sebagai individu yang hidup dalam sosial masyarakat, tanggung jawab moral maupun struktural sistemik. Dan di situlah letak belajar yang paling penting, dalam proses sebuah organisasi.

Memang disini, tidak seperti organisasi profesional yang bisa menawarkan reward (hasil balik) yang jelas, seperti gaji dan jabatan yang bisa dibanggakan kepada teman, keluarga. Tetapi bukan lantas kita berbuat seenaknya. dimanapun yang namanya organisasi, pasti memiliki nilai yang harus di hormati dan ditaati secara bersama, sebab keberadaan organisasi adalah hasil dari konsesus bersama, demi tercapainya visi dan misi yang di harapkan.

Dalam pikiran hemat saya, jangan pernah mengaku menjadi organisatoris, jika keberadaan kita masih sering dipertanyakan baik esensi maupun eksistensinya. Cukuplah menjadi individu yang kapable, berkredibilitas tinggi, namanya terkenal dimana-mana karena hasil perenungan pribadi yang mendalam. Akan tetapi perlu digaris bawahi, bahwa hidup adalah perbuatan, hidup bukan sebatas menjadi filosof yang menyimpan nalar kritisnya di ubun-ubun hingga rambutnya rontok. (dalam artian sebatas berfikir, berbicara, mengkritik namun tidak bisa berbuat apa-apa dalam merubah keadaan, karena hanya sendiri). Lebih baik menjadi Marx kecil yang bisa memberi makna sedikit kepada yang lain, daripada tidak sama sekali.

Menjadi organisatoris ideal dibutuhkan ribuan pengorbanan, dalam bentuk apapun, dibutuhkan sekian juta kesabaran dan keihlasan untuk menjalaninya. Dan milyaran mental dan semangat baja, tahan banting, seperti karet, tidak mood-mood-an (konflik sedikit stress, depresi, jarang datang dan akhirnya hilang bah di telah bumi ) jangan bermental tempe gampang penyet. sebab Tanpa itu, apalah artinya sekian yang kita lakukan, yang ada hanyalah kesia-siaan belaka.

Menjadi Organisatoris Handal

Banyak yang berasumsi bahwa, ikut organisasi adalah kesia-siaan. Dan saya pikir itu betul, selama keikutsertaan kita dalam organisasi sebatas menunjukkan sisi keakuan kita sebagai manusia. Dalam maksud partisipasi kita tidak ada bedanya dengan orang-orang lain yang tidak mengikuti organisasi, Cuma doyan kumpul-kumpul doank. Bila sebatas itu, semua orang akan berkesimpulan buang-buang waktu. Yang harus kita wujudkan adalah pribadi yang kritis dan mampu memahami realitas untuk mencoba merubahnya. Amien tuhan.

Sampai saat ini saya masih yakin dengan pepatah “ selama ada kemauan, pasti ada jalan”. Selama diri kita benar-benar mencari hakekat pribadi kita, pasti akan dipertemukan dalam ruang dan waktu yang bisa kita buat berkaca. Terus optimis, jangan pernah lelah untuk belajar memahami diri dan sekeliling kita.

Menag benar, dalam sebuah sistem yang pasti tidak dapat hindari adalah konflik, baik konflik vertikal (struktural) maupun konflik horisontal (antar personal) itu pasti. kenapa demikian?. karena manusia itu memiliki emosi, kemauan, pemikiran, keyakinan, yang berbeda-beda tidak bisa kita pungkiri, itu bentuk kodrati penciptaan dari tuhan (maaf kalau sedikit dogmatis).

Siapa yang tidak ingin, dirinya merasa nyaman (bahagia) dalam segala kondisi, pastinya semuanya berharap itu. namun bila diri kita benar-benar ingin menjadi pribadi merdeka mahasiswa, jangan pernah takut lelah, bau keringat akibat padatnya aktivitas, banyak masalah. Anggaplah semua itu sebatas lika-liku hidup, uji mental boz.

5 Komentar

  1. link ku kok belum kamu pasang katanyaa tukeran link

  2. wah gurem ya. meski ga sepakat tapi bolehlah kalo ‘dianggap’ begitu. hehe. jadikan besar ya.

  3. sipppppp dah…………………….tapi bagaimana sih cara menghindari konflik yang sering kali terjadi di organisasi????????

    • HALO, selamat siang….senang sekali bisa berbicara dengan anda walaupun sebatas teks. salam kenal dari kami.
      jelas, pertanyaan saudara, merupakan pertanyaan serupa yang sering menghantui kinerja organisasi. walaupun bukan tempat konsultasi, tetapi tidak apalah kalau kita bertukar ide,.
      sering kita mengamini, bahwa konflik pasti terjadi, namun jarang kita yakin untuk bisa menyelesaikannya.
      pandangan kita terhadap konflik seringkali hanya dari satu sisi, akibatnya penyelesaian yang kita lakukan, sebatas parsial, bahkan sering menambah jejaring konflik baru…
      saran kami, kita harus benar-benar memahami, dimana akar konflik itu sebelum kita bertindak untuk mnyelesaikannya. jangan sampai akhirnya tindakan kita semakin menyinggung yang lain….yang tidak tahu menahu tentang konflik yang ada. selain itu kita juga harus, mengetahui masing-masing karakter para anggota. sebab tidak semuanya sama mentalnya, dan harus di intensifkan komunikasi terutama kepada anggota yang masih labil emosinya. demikian makasih selamat mencoba.

    • maaf baru membalaz. konflik tidak selalu negatif. tinggal memanajemen nya. dari konflik justru kita belajar.


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.