‘Jas merah’, jangan sekali kali melupakan sejarah. Jargon Proklamator Indonesia tersebut nampaknya perlu difahami secara menyeluruh. Kata itu mungkin yang seharusnya menjadi landasan sebuah perubahan yang pada akhirnya dilakukan. Perubahan yang terjadi seharusnya tidak bisa begitu saja diputuskan karena sudah bisa dipastikan ada nilai sejarah di dalamnya. Pertimbangan tidak hanya sebatas akan perlunya perubahan tetapi perlu dikaji hal-hal yang mendasari perubahan. Dan bukan hanya sebatas mengukuhkan asumsi bahwa ‘segala sesuatunya pasti akan berubah, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri’.
Proses adanya sebuah perubahan saat ini sedang dialami oleh Universitas Jmeber. Perubahan tersebut terkait dengan adanya wacana pergantian logo Unej. Seperti yang kita ketahui bersama, Unej menggunakan daun tembakau sebagai salah satu simbol dalam logo tersebut. Pelemparan wacana ke publik pertama kali dilakukan pada Oktober 2009 dalam sebuah acara sarasehan bertajuk ‘Menggagas perubahan nama dan logo Universitas Jember’. Acara tersebut dihadiri oleh alumni-alumni Unej, sesepuh, serta para birokrat kampus. Pelemparan wacana ini memunculkan berbagai pendapat baik pro maupun kontra.
Dalam acara yang menghadirkan Prof. Kabul dan Ayu Sutarto sebagai pembicara tersebut, juga dilakukan serap aspirasi. Dari berbagai pendapat yang masuk, mayoritas berpendapat setuju akan pergantian logo Unej. Hal tersebut seperti diungkapkan Pembantu Rektor (PD) III bapak Andang Subaharianto yang kami temui di ruang kerjanya sore itu (09/11/09)“…kalau melihat ‘nada-nadanya’, yang berbicara baik secara langsung maupun melalui tulisan, ada satu kecenderungan dari forum bahwa banyak yang membayangkan bahwa logo itu perlu dikaji ulang, Cuma kalau terkait dengan nama, banyak yang tidak setuju”. Namun kemudian beliau menambahkan bahwa sarasehan ini baru menjadi awal pelemparan wacana. “Kita tidak ingin melakukan perubahan secara tergesa-gesa tanpa suatu pikiran yang matang, untuk itu selanjutnya akan dilakukan agenda-agenda sarasehan lain untuk mematangkan konsep perubahan logo ini” tambahnya.
Isu kesehatan
Hal yang sering muncul sebagai dasar perubahan logo Unej salah satunya adalah tentang isu kesehatan baik secara nasional maupun internasional. Isu nasional yang berkembang saat ini terkait dengan bahaya merokok sampai pada ditetapkannya Peraturan Daerah di sejumlah daerah di Indonesia tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Surabya menjadi salah satu kota yang telah meberlakukan Perda tersebut. Sedangkan dalam taraf internasional, kampanye anti rokok juga sangat mengemuka. Seperti yang disampaikan PR III yang mengaitkan isu kesehatan tersebut dengan keberadaan beberapa fakultas kesehatan yang ada di Universitas Jember “…sekarang Unej sudah berkembang sedemikian rupa dan dari segi ilmu sudah sangat beragam seperti fakultas-fakultas ilmu kesehatan…, sehingga ada orang yang berpikiran bahwa sudah saatnya kita perlu melakukan semacam kaji ulang, kemungkinan bahwa logo itu dilakukan sebuah perubahan” tandasnya.
Perkembangan yang terjadi dari masa ke masa baik secara fisik maupun perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada menciptakan sebuah konsekuensi logis. Efek dari perubahan kondisi yang terjadi di Unej yakni dengan bertambahnya jumlah fakultas yang beberapa diantaranya di bidang kesehatan, menciptakan sebuah konsekuensi akan dirubahnya logo Unej yang dirasa tidak lagi mampu merepresentasikan kondisi Unej secara khusus dan Jember dalam tataran yang lebih luas. Isu-isu yang berkembang baik tataran nasional maupun internasional juga memberikan andil akan pertimbangan perubahan logo Unej.
Perubahan Logo Akan Dilombakan
Kecenderungan akan dirubahnya logo Unej seperti hasil serap aspirasi dalam acara sarasehan tersebut di atas, memberikan sebuah isu baru terkait dengan teknis perubahan logo yang akan dilakukan nantinya jika perubahan logo ini sudah disetujui. Secara teknis, perubahan logo Unej pada akhirnya nanti akan dilombakan. Perlombaan ini dirasa lebih mampu menekan dana yang akan dikeluarkan. Hal tersebut seperti diungkapkan kembali oleh PR III “banyak yang usul itu dilombakan… tapi ada juga yang usul mencari perusahaan yang jago membuat logo… katanya kalau dilombakan biayanya lebih murah hehe…, kan tinggal memberi hadiah pada pemenang” tutur Pak Andang sambil sedikit bergurau.
Banyak hal yang perlu dicermati dalam setiap perubahan. ‘Jas merah’ di atas sudah selayaknya menjadi pertimbangan tersendiri dalam sebuah perubahan. Pun dengan perubahan logo Unej. Apapun dan bagaimanapun proses perubahan yang terjadi nantinya sejarah yang melatarbelakanginya harus tetap dipertahankan.[]
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal








