Pintu belakang FISIP kembali dibuka, kalau tidak mau dibilang dibobol. Selasa (16/03/10), waktu setempat pintu belakang FISIP yang menghubungkan dengan masyarakat jawa 7 berlubang. Entah kapan lubang itu mulai dibuat dan oleh siapa. Besar lubang tersebut dillihat dari ukurannya mampu menampung badan pria ukuran dewasa.
Pintu tersebut seperti diakui oleh Pembantu Dekan III ditutup karena alasan keamanan. “pintu itu diputuskan untuk ditutup karena memang tidak ada penjaganya” terangnya disela-sela sosialisasi dana UKM (11/03/10)setelah salah satu wakil dari HMJ menanyakan perihal penutupan pintu belakang Fisip yang memberikan akses warung makanan milik masyarakat sekitar. Selama ini Fisip memang tidak lagi memiliki kantin. Kantin yang dulunya sempat ditempati, kembali mangkrak karena waktu sewa yang telah habis.
Untuk rencana kedepannya, kantin mahasiswa akan dibangun kembali dalam waktu dekat. Perihal siapa yang akan berjualan di kantin tersebut, bapak Fatahilah selaku Ketua Tata Usaha menjelaskan bahwa akan ada prioritas untuk mentenderkan kantin tersebut kepada mahasiswa. Hal tersebut sesuai dengan keinginan Dekan FISIP bapak Hari Yuswadi agar kantin tersebut ditenderkan kepada mahasiswa terutama mereka yang berasal dari luar kota atau luar pulau. “Bapak dekan meminta untuk memprioritaskan mahasiswa agar mengisi kantin nantinya terutama yang berasal dari luar kota atau luar pulau” jelasnya saat menyambung penjelasan bapak Sutrisno selaku PD III saat penyampaian sosialisasi dana UKM.
Area kantin mahasiswa nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas wifi. Pernyataan tersebut disampaikan oleh bapak Sutrisno yang telah melakukan survey di salah satu universitas terkemuka di Bandung terkait dengan kantin mahasiswa. “kalo di Bandung itu kemarin saya lihat, mahasiswa yang selesai kuliah tidak langsung pulang, tapi mereka diskusi di kantin semacam pujasera begitu dengan dilengkapi fasilitas wifi. Rencananya, di Fisip nanti juga akan ada seperti itu”. Terangnya menambahkan.
Project jangka pendek infrastruktur Fisip ini kemudian masih perlu dipertanyakan kembali implementasinya. Di saat dana seret yang juga diakui oleh pihak dekanat, perbaikan demi perbaikan di Fisip akan terus dilakuikan. Penutupan pintu belakang fisip yang menghubungkan akses warung makanan milik warga setempat juga sempat menimbulkan pertanyaan besar di benak kawan-kawan mahasiswa. Bahkan sudah banyak yang meminta untuk membuka pintu tersebut karena memang semenjak ditutup, mahasiswa Fisip kerepotan untuk sekedar mencari makan di sela-sela menunggu jam masuk perkuliahan. Atau bahkan hal yang selama ini mungkin tidak disadari oleh sebagian besar mahasiswa yakni budaya kritis yang tercipta dalam sebuah diskusi di sebuah kantin atau warung yang saat ini tidak lagi terlihat.
Menanggapi tulisan kawan saya di Koran Tembel Prima edisi ketiga terkait dengan penutupan pintu belakang Fisip, memang perlu banyak koreksi terhadap kebijakan yang selama ini dikeluarkan. Jika masalah keamanan adalah alasan yang paling mendasar untuk melakukan penutupan pintu belakang, sedangkan mahasiswa sangat kesulitan dengan adanya penutupan tersebut, tidakkah lebih bijak sambil menunggu terbentuknya kantin mahasiswa yang baru, pintu tersebut tetap dibuka dengan menambahkan pengawas baru.
Penjebolan pintu belakang tersebut tidaklah tanpa alasan. Kondisi yang mengharuskan mahasiswa untuk melakukan perlawanan dengana cara membuka kembali pintu balakang Fisip membuktikan bahwa selama ini aspirasi yang telah dibangun dan disampaikan tidak mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap kebijakan yang dikeluarkan. Berbagai pihak banyak yang kontra dengan kebijakan penutupan tersebut. Masalah sosial pun tak jarang diusung untuk sekedar memperkuat argument bahwa tak seharusnya pintu tersebut ditutup. Warung yang dikelola masyarakat sekitar jawa 7 juga memiliki hak untuk mengakses rezeki dari mahasiswa. Parahnya lagi hal tersebut seperti tidak pernah didengar atau bahkan terdengar oleh pemangku kebijakan di Fisip. []
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal








