Mengaca (dari) Fulgoso

Yah, pagi ini tepatnya di jarum jam 6.51 dengan lantunan suara sheila on 7 menemani pagi ku. Ini bukan tulisan ilmiah, tetapi segores coretan tanda rindu yang telah lama pupus. Membuka-buka folder foto, melihat-lihat album yang mati nyatanya tapi tetap hidup di hati dan pikiran itu sengaja mengajak segumpal tubuh ini untuk kembali berenang ke masa lalu. Mengembalikan sebait kenangan yang lalu ke hari ini. Diantara deretan manusia berpose dengan uletnya, ada dia yang mengintip. Tak luput menemani beberapa pose penghuni folder foto itu. Ini sudah tak asing bagi yang mengenalnya. “Fulgoso”. Bukan nama makanan, orang, ataupun merek terkenal melainkan merek lokal yang diberi pemiliknya. Sebuah nama untuk sepeda motor tua tapi justru teman setia.
Dia hidup tetapi tak bernyawa. Dengan seliter bensin eceran (minimalnya), tentukan rencanamu dan tujuanmu dia akan siap untuk kamu jalankan. Dia akan siap menemani mu seharian. Dia seperti generator kekuatannya, besar semangat. Jika dia manusia pastinya semangatnya tidak perna padam dan bergerak bebas. Lari dan lari. Kejar dan kejar. Terjang dan terjang. Itulah visi dan misi nya. Sayangnya dia bukan manusia. Kalaupun manusia dia pasti sudah menempeleng orang-orang yang perna menungganginya satu-satu, karena kalau bahasa seorang kawan “wes dipulosoro” (sudah disengsarakan). Disuruh menuruti kemauan mereka yang menungganginya, tanpa perna sedikit membantah. Hanya mungkin ngambek tiba-tiba (mogok).
Fulgoso, sedikit mengingat-ingat lagi arti namanya. Bersal dari kata Full, Go dan So bukan dari pemilikna. Full, yang artinya penuh, Go, pergi dan So, jadi. Intinya, dia siap pergi dengan kekuatan penuh sapapun rajanya yang mengendalikannya. Ibarat sebuah wadah(baca:organisasi) dengan struktur sederhana yang hanya ada pimpinan dan timnya. Ketika pemimpinnya dengan amunisi semangat penuh kemanapun dia bergerak, anggota timnya otomatis akan terjangkit semangat membara juga. Seperti yang dikatakan Chris Lowney dalam bukunya Heroic Leadership “setiap orang tahu bahwa organisasi, tentara, tim olah raga dan perusahaan akan menghasilkan kinerja paling baik yaitu ketika mereka mendapat semangat dengan bekerja bersama dan untuk kolega yang menghargai, mempercayai dan mendukung mereka. Kelompok-kelompok diikat dengan kesetiaan dan afeksi(cinta-kasih) dan sikap saling mendukung.” Meskipun juga semangat memimpin tidak habis di pucuk pimpinan, tetapi diri kita pun juga termasuk pemimpin entah itu disadari atau tidak oleh kita. Tombol motivasi hanya ada di dalam diri kita.
Kesadaran diri merupakan kunci untuk “berhasil hidup dengan satu kaki terangkat”. Seorang pemimpin harus membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan, prasangka-prasangka, preferensi-preferensi budaya yang tertanam amat dalam, dan sikap “kita selalu menempuh cara ini” (dalam Crish Lowney). Melawan ketakutan adalah gerbang pembuka menuju langka ke depan. Ini sekedar kaca dari sebuah benda tak bernyawa “fulgoso” yang kemudian dipantulkan dalam kehidupan. Hari ini ada karena kemarin, esok ada karena hari ini. Masa lalu ada karena masa sekarang, masa mendatang ada karena ada masa lalu dan sekarang. Benang merah yang sengaja digoreskan dalam lembar kecil ini untuk menyapa pagi di hari ini. Selamat melewati hari(mu) kawan.
_08072011_

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.